Oleh: Tatang Astarudin*
Ada peristiwa-peristiwa yang tampak sangat sederhana, tetapi sesungguhnya ia sedang mengubah arah sejarah. Bukan karena dirayakan dengan gegap gempita, melainkan karena dari sanalah sebuah cara pandang baru mulai tumbuh.
Bagi saya, lahirnya Wakaf UNPAD setahun yang lalu adalah salah satu peristiwa semacam itu.
Barangkali, bagi sebagian orang, ia hanya penambahan satu lembaga baru di lingkungan universitas. Tetapi bagi saya--sebagai Alumni, dan yang sejak lama berkecimpung di dunia perwakafan, peristiwa itu jauh lebih dalam daripada sekadar pembentukan organisasi.
Saat itu, yang sesungguhnya lahir adalah sebuah komitmen. Bahwa universitas tidak hanya ingin melahirkan lulusan, melainkan juga bertekad membangun keberkahan berkelanjutan.
Saya selalu percaya bahwa sebuah kampus besar tidak hanya diukur dari jumlah guru besarnya, banyaknya publikasi ilmiah, atau megahnya gedung yang berdiri. Semua itu penting. Tetapi ada ukuran lain yang lebih sunyi. Yakni, apakah kampus itu mampu memastikan manfaatnya tetap hidup, bahkan ketika generasi yang membangunnya telah berganti?
Di situlah wakaf menemukan maknanya.
Wakaf adalah cara manusia melampaui usianya sendiri. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak berhenti pada apa yang berhasil kita miliki, melainkan pada apa yang tetap memberi manfaat setelah kita pergi.
Karena itu saya sering mengatakan, wakaf bukan hanya soal aset atau harta. Wakaf adalah tentang gaya hidup dan cara berpikir. Gaya hidup bermental altruistik (al-itsar), cara berpikir yang tidak berhenti pada hari ini. Cara berpikir yang selalu bertanya, "Apa yang masih bisa dinikmati anak cucu nanti?"
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar hampir selalu ditopang oleh tradisi berbagi dan memberi yang kuat. Banyak universitas ternama di dunia bertahan berabad-abad karena memiliki dana abadi. Dalam tradisi Islam, dana abadi itu bernama wakaf.
Sekolah, rumah sakit, perpustakaan, layanan air bersih, hingga pusat-pusat ilmu pengetahuan tumbuh karena ada orang-orang yang bersedia melepaskan sebagian miliknya agar manfaatnya tidak pernah berhenti. Yang diwariskan bukan bangunannya. Yang diwariskan adalah keberlangsungannya.
Di tengah dunia yang berubah sangat cepat seperti sekarang, pelajaran itu justru terasa semakin relevan. Kampus menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Kebutuhan riset terus meningkat, akses pendidikan harus semakin terbuka, sementara sumber-sumber pembiayaan tidak selalu bertambah.
Kita membutuhkan mekanisme yang tidak habis dipakai. Kita membutuhkan sumber daya yang terus bertumbuh. Dan wakaf menawarkan jalan itu.
Berkenaan dengan wakaf, yang sering kali menjadi persoalan bukanlah kurangnya potensi, melainkan kurangnya kebiasaan.
Masih banyak orang membayangkan wakaf sebagai tanah, bangunan, atau kebun yang luas. Padahal hari ini wakaf telah berkembang menjadi jauh lebih inklusif.
Wakaf uang memungkinkan siapa pun ikut mengambil bagian. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu memiliki aset bernilai miliaran. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk berbagi.
Saya justru percaya bahwa masa depan wakaf tidak dibangun oleh segelintir orang yang menyumbang sangat besar. Masa depan wakaf dibangun oleh ribuan orang yang memberi sedikit, tetapi melakukannya dengan istiqamah.
Seperti hujan. Tidak ada satu tetes pun yang mampu menghijaukan bumi. Tetapi jutaan tetes yang turun bersama-sama mampu mengubah musim.
Saya membayangkan suatu hari nanti, budaya itu tumbuh dengan sendirinya di UNPAD.
Seorang mahasiswa yang baru menerima beasiswa menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk wakaf.
Seorang dosen yang naik jabatan memilih mensyukurinya dengan berwakaf.
Seorang alumni yang memperoleh pekerjaan pertama merasa ada yang kurang bila belum menyisihkan sebagian rezekinya untuk almamater.
Lalu seorang profesor yang memasuki masa purnabakti menitipkan sebagian hartanya agar ilmu yang selama puluhan tahun ia rawat tetap hidup melalui generasi berikutnya.
Begitulah budaya lahir. Ia tidak muncul karena perintah. Ia tumbuh karena teladan dan kesadaran.
Tentu pekerjaan besar masih menunggu dan terbentang di hadapan Wakaf UNPAD.
Lembaga wakaf tidak cukup hanya memiliki semangat. Ia juga harus memiliki tata kelola yang profesional. Di zaman ketika semua orang bisa memantau rekening dari telepon genggamnya, pengelolaan wakaf juga harus transparan, akuntabel, dan mudah diakses.
Kepercayaan adalah modal terbesar wakaf. Sekali kepercayaan tumbuh, orang akan datang bukan karena diminta, melainkan karena yakin bahwa amanahnya dikelola dengan baik.
Sebaliknya, tanpa kepercayaan, potensi sebesar apa pun hanya akan tinggal angka di atas kertas.
Hari ini Wakaf UNPAD baru berusia satu tahun. Usia yang masih sangat muda. Tetapi bukankah setiap pohon besar juga pernah menjadi benih yang nyaris tak terlihat?
Yang penting bukan seberapa besar pohonnya hari ini, melainkan apakah akarnya terus menguat dan terus menemukan air untuk bertumbuh.
Saya berharap dan berdoa, beberapa puluh tahun dari sekarang, generasi baru, para mahasiswa, menikmati beasiswa, melakukan riset, masyarakat memperoleh layanan kesehatan, para dosen mengembangkan inovasi yang didukung penuh oleh dana wakaf UNPAD.
Mungkin, mereka tidak lagi mengenal siapa para perintisnya. Dan memang tidak perlu. Karena hakikat wakaf memang demikian. Ia bekerja dalam diam. Tidak mencari tepuk tangan. Tidak mengejar pujian.
Wakaf hanya memastikan bahwa ketika seseorang telah selesai menjalani hidupnya, masih ada kebaikan yang terus berjalan atas namanya.
Barangkali, itulah bentuk keabadian yang paling indah yang bisa diwariskan manusia.
Selamat Ulang Tahun Wakaf UNPAD.
Jangan pernah lelah membangun jejak, karena sejatinya hidup bukanlah sebatas perjalanan mengukur jejak, jejak geografis atau usia perjalanan, sejatinya hidup adalah aktivitas mengukir jejak. Jejak kemanfaatan bagi sesama, jejak menyenangkan dengan siapapun yang berjumpa atau kerjasama. Dan jejak terbaik itu adalah Wakaf. Wallahu'alam.
*Wakil Ketua I Badan Wakaf Indonesia (BWI), Alumni UNPAD
Ankara, Lepas Subuh
07 Juli 2026